susahnya menerapkan sportivitas dalam olahraga

Pendahuluan

Dewasa ini olahraga telah banyak digemari oleh masyarakat luas. Hal tersebut dapat kita lihat dari banyaknya cabang olahraga yang diperlombakan, yang kita ketahui dahulu hanya olahraga lari saja yang diperlombakan. Namun pada saat ini tidak dapat dipungkiri olahraga tidak hanya untuk kesehatan semata tetapi juga menjadi ladang bisnis. Setidaknya  hal tersebut jangan sampai mengurangi nilai sportivitas bagi para atlet.

Di Indonesia sifat sportivitas tidak terlalu dijunjung tinggi. Hal tersebut dapat kita lihat dari maraknya anarkisme para suporter dan beberapa atlet yang tidak bertanggung jawab seperti atlet yang menggunakan doping.

Oleh karena itu tulisan ini adalah suatu bahan yang menuliskan tentang susahnya menerapkan sifat atau rasa sportivitas dalam olahraga pada masyarakat bangsa ini, hal ini bisa dibuktikan dengan menyaksikan berita-berita yang ada di media cetak maupun elektronik yang berisi kejadian dalam suatu pertandingan.

Sudah sejak dulu masalah ini diatasi namun kenyataannya sampai sekarang ini masih ada saja, bahkan bisa dikatakan lebih marak dari sebelumnya. Sedangkan doping sendiri untuk saat ini sudah ada lembaga yang mengatasi tentang doping yaitu LADI. Sumber data berdasarkan data skunder yang dilakukan dengan studi pustaka, pembuktian di berita, dan internet

 Isi kajian

            Olahraga memang aktifitas yang membutuhkan energi yang lebih dan tenaga serta fisik yang ekstra, apalagi olahraga yang berat seperti basket, sepak bola, angkat besi, beladiri dan lainnya. Apabila tubuh sedang tidak fit yang mungkin disebabkan karena sedikit cidera maupun kondisi badan yang sedang bermasalah tidak mampu mengikuti aktifitas ini, apalagi kalau sifatnya suatu pertandingan yang sangat penting.

Hal semacam menjaga kesehatan pasti sudah dilakukan jauh-jauh hari oleh para atlet sebelum pertandingan dilaksanakan. Namun kenapa hal ini malah dikotori oleh orang-orang yang tidak mempunyai rasa sportivitas, baik itu disebabkan oleh pemain itu sendiri maupun disebabkan oleh suporter. Tindakan tersebut sebenarnya tidak perlu mereka lakukan (anarkisme) karena dapat mencoreng nama baik olahraga. Tindakan itu bisa saja terjadi karena mereka yang dengan sengaja mencari gara-gara supaya muncul suatu kerusuhan yang dapat menunda suatu pertandingan, bahkan merusak fasilitas yang ada di sekitar, apabila tim yang mereka dukung mengalami kekalahan, sehingga terjadi kerugian. Tanpa adanya sifat sportivitas maka suatu pertandingan tidak akan terkendali.

            Memang sangat sulit untuk menerapkan sifat sportivitas, karena kita tahu bahwa di Negara ini banyak terdapat manusia dan sifat manusia itupun berbeda-beda. Sifat sportivitas itu bisa muncul karena ada dorongan dari dalam diri kita yang mana apabila kita melakukan tindakan anarkis atau memakai doping pada saat pertandingan itu adalah tindakan yang salah besar. Selain itu sifat sportivitas yang timbul pada diri kita adalah ajaran dari orang tua kita yang diberikan kepada kita pada waktu kita kecil.

            Salah satu akibat dari penggunaan obat terlarang dalam olahraga seperti yang di tulis oleh Rusli Lutan pada bukunya yang berjudul penggunaan doping ditinjau dari aspek etika adalah dapat memerosotkan kepercayaan terhadap hasil yang telah diraih para atlet yang sudah tercapai dari suatu pertandingan, selain itu juga dapat memerosotkan kualitas atlet, bahkan yang lebih bahaya lagi jika masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap olahraga, sebab itu sama saja dengan menipu hasil prestasi.

 Jadi semua atlet mestinya harus mempunyai tanggung jawab sebagai mana mestinya dan bisa memegang kepercayaan yang sudah diberikan oleh semua masyarakat pecinta olahraga. Misalnya saja seperti yang dikatakan oleh Arief Natakusumah dalam harian kompas bahwa pertandingan sepak bola bukan hanya lebih dari sekadar permainan, peraturan atau strategi, tetapi juga bicara fans, kultur, serta bagaimana itu semua bisa menerangkan kebutuhan rohani mereka.

Yang mana kita ketahui memang telah menjadi penantian para masyarakat pecinta dan penggila sepakbola, apalagi kalau pada saat itu pertandingannya menghadirkan tim yang tangguh-tangguh pasti banyak orang yang antusias menontonnya karena dari hasil pertandingan nantinya dapat diperoleh suatu berita yang dapat mengantar kita untuk memahami dan mengetahui berita terkini tentang sepak bola di dunia, tetapi apabila dalam pertandingan tersebut yang mana para suporter banyak yang anarkis karena mungkin tim yang mereka bela kalah atau timbulnya saling menghina dan mencaci antar suporter terlebih lagi ditambah berita yang mengatakan bahwa ada pemain yang memakai doping, semua itu dapat menjadikan para pecinta sepak bola yang menonton menjadi berkurang.

            Pada umumnya, jika sportivitas bisa tertanam pada setiap individu dalam suatu masyarakat maka semuanya bisa dinikmati dan disaksikan tanpa adanya kekerasan dan kecurangan dalam suatu pertandingan. Namun bukan berarti sportivitas tidak dapat dijunjung tinggi. Semuanya bergantung pada para tunas-tunas baru yang watak dan karakternya dibentuk oleh para orang dewasa, yang apabila pemikiran orang dewasa itu salah maka tunas-tunas baru tersebut akan mengikuti jejak mereka dan bangsa ini pun akan semakin hancur. Namun apabila para orang dewasa tersebut dapat memberikan pemikiran yang benar dan lurus maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dan menjunjung sifat sportivitas.

Kesimpulan

            Khususnya di Negara kita ini masih susah menerapkan sifat sportivitas, buktinya dari dulu sampai sekarang dalam setiap pertandingan ada saja perkelahian yang terjadi. Itu adalah bukti sebagai mana menerapkan sifat sportivitas memang benar-benar sangat susah, namun apabila kita menyadari dan memulainya dari diri kita sendiri secara perlahan- lahan  mengajak orang disekitar kita untuk tidak berbuat semaunya sendiri, kita sudah membantu mengajak untuk berbuat sportive walaupun dari dulu sampai sekarang masih tetap ada saja sikap yang tidak sportive dan mungkin malah tidak bisa hilang.

Daftar Pustaka

Mutohir, Toho Cholik. Perang Melawan Doping dalam Olahraga, Kompas 6 Agustus 2008.

Haryanto, Bambang. Budaya Jawa dan Kekerasan Sepak Bola, Kompas 4 April 2006

Hamdani, Aulia. Kerusuhan sepakbola, potret buram bangsa Indonesia. Posted, 20 January 2008.

Lembaga Anti Doping Terbentuk, Kompas & Agustus 2004.

Lutan, Rusli. (2001). Penggunaan Doping Ditinjau dari Aspek Etika, dalam Olahraga dan Etika Fair Play: Hal 178-200.

Natakusumah, Arief. Memahami “Soccer-sociology”. Kompas, 23 Desember 2005.

Taufik79. Perilaku kekerasan. Editorial media massa Indonesia, 13 Februari 2008.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: