penggunan doping dilihat dari aspek Etika

Doping adalah penggunaan obat secara ilegal untuk meningkatkan prestasi atlet. Banyak tilikan mengenai doping ini. Seseorang dapat mengenalnya dari aspek tarmatologi, piskologis, piskologis-pedagogis. Kesemua tilikan ini penting. Namun yang lebih penting lagi adalah pemahaman dari perspektif etika.

Salah satu penggunaan obat terlarang dalam olahraga adalah merosotnya kepercayaan terhadap hasil yang dicapai dalam suatu kopetisi. pemeliharaan kepercayaan ini sangatlah mahal dan penting maknanya. kepercayaan ini bukan persoalan emosi tetapi kelangsungan fungsi yang menjadi dasar bagi kepercayaan yang mendalam. Di balik persoalan itu terdapat asumsi yang percaya bahwa terdapat satu peluang yang sama bagi semua orang untuk berprestasi. Tentu saja,tujuan ini sangat sulit untuk dicapai.

Kesempatan yang sama memang menjadi semacam ide belaka, sebab betapa sulit untuk mengontrolnya. Semua pihak yang terlibat dalam satu kompetisi tentu tidak mengetahui apa yang dikerjakan oleh pihak lawannya. Baik pemain maupun pelatih sama-sama tidak jelas mengenai persiapan dan unsur penunjang lainnya yang diperoleh pihak lawannya, karena itu siapa yang dapat menjamin bahwa atlet menggunakan doping sebagai pemicu prestasinya?

Sebagai alat pengontrol adalah adanya peraturan tertulis yang menjadi rujukan prilaku bagi semua pihak terkait, baik atlet maupun pelatih dan ofisial serta pihak lainnya, tak terkecuali media massa. Setiap pemain harus mematuhi peraturan itu, bisa dibayangkan kekacauan yang terjadi dalam suatu kompetisi apabila pemain dan lainnya tidak mematuhi peraturan itu, yang harus dilakukan selanjutnya adalah membangkitkan kebanggaan para atlet mengenai publikasi prestasinya yang dicapai dengan memanfaatkan asli usaha dan kemampuan badannya.

Doping tidak saja menghilangkan kepercayaan antara atlet dan sesamanya tetapi juga menghancurkan kepercayaan masyarakat kepada olahraga. Krisis kepercayaan ini sudah lama terjadi karena faktor ketidak jujuran itu. Kesimpulannya, penggunaan doping menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap olahraga, karena itu pula penggunaan doping menjatuhkan nilai pedagogi olahraga, kopetisi dan atlet jatuh di mata masyarakat, sebab terjadi penipuan untuk berprestasi, tidak berkat usaha dan dominasi kemampuan yang asli tetapi bantuan dari luar.

Di negara maju di bidang keolahragaannya yang sudah mencapai tahap “olahraga masyarakat”, kontrol doping menjadi pekerjaan yang masif sebab begitu banyak jumlah anggota olahragawan yang menjadi populasinya. Karena itu ditempuh jalan yaitu melalui pengacakan atau prosedur randum. Melalui prosedur undian, maka setiap orang berpeluang terpilih menjadi subyek yang akan diperiksa apakah sebagai pengguna doping atau tidak. Mereka yang terpilih itu kemudian didatangi oleh petugas untuk diambil, misalnya urinnya yang selanjutnya diperiksa di lap.

Prosedur itu memang efektif karena semua berpeluang untuk diperiksa, dan semua orang dianggap berpeluang pula mengguanakan doping. Namun apakah cara itu dijamin efekti? Penciptaan jaringan internasional untuk menanggulang masalah doping ini dari sisi ide memang baik, namun tidak layak ditijau dari aspek teknis dan ekonomis. Terlalu luas jangkauan pekerjananya dan terlalu mahal pula biayanya.

melekat melalui seif-kontrol. Atlet itu yang mengawasi dirinya, godaan memang besar. Di negara maju yang gampang dan terbisa dengan obat-obatan untuk merangsang performa, rayuan dari ketersediaan obat perangsang itu sangat kuat. Sekaitan dengan hal ini, realisasi dari pengawasan terhadap diri sendiri itu juga harus didukung oleh pihak lainnya yang sama-sama ikut mengamankan pelanggaran yang terjadi, Para dokter juga ikut bertanggung jawab.

Pengawasan dari itu pada akhirnya terpulang pada etika dan nila moral yang melekat pada diri seseorang. Atas dasar rujukan itulah ia menentukan pilihannya, apakah menggunakan doping atau tidak. Karena alasan ancaman kesehatan, seperti bahaya kena kanker hati, tidak dapat keturunan, dan lain-lain yang mengerikan, kesemuanya itu rupanya tidak cukup untuk membuat atlet jera menggunakan obat itu. Kabar yang tidak tersiar luas mengungkapkan kasus kematian atlet balap sepeda karena menggunakan doping. Jadi yang menjadi benteng dan sekaligus filter untuk melindungi keselamatan atlet adalah mereka sendiri. Namun demikian, seperti disinggung di muka, aspek pedagogik atau pendidikan memainkan peranan penting dalam proses penyadaran dan pembentukan sikap serta prilaku untuk mempertahankan kepercayaan dan kejujuran dalam olahraga.

Adapun moral dokter olahraga selain pelatih atau warga masyarakat olahraga yang ikut serta memelihara kepercayaan terhadap kopetisi dan performa. Sebagai ahli-profesional yang paham akan kasiat obat dan eksesnya ditinjau dari aspek farmakologi, maka dokter olahraga berpotensi untuk terjebak ke arah pemberian atau dukungan kepada atlet untuk menggunakan obat perangsang tersebut. Hal itu dapat didorong oleh faktor komersialisasi dan nama masyhur yang juga terkait dengan faktor ekonomi. Ketenaran nama yang dicapai atlet akan mendorong peningkatan status sosialnya.

Lembaga Anti-Doping Indonesia Terbentuk

Jakarta, Kompas – Sebagai upaya untuk menjaga kemurnian olahraga dan nilai-nilai olahraga dari tindakan yang merusak citra olahraga, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) membentuk Lembaga Anti-Doping Indonesia, Jumat (6/8) di Jakarta. Lembaga tersebut independen dan terdiri atas para profesional, seperti dokter dan ahli hukum.

“Lembaga itu didirikan untuk memerangi doping dalam olahraga,” kata Ketua Umum Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) Toho Cholik Mutohir seusai pelantikan oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Malik Fadjar di Senayan, Jakarta.

LADI merupakan tindak lanjut Indonesia dari konvensi dan deklarasi antidoping dalam olahraga, 3-5 Maret 2003 di Copenhagen, Denmark, yang diwajibkan World Anti-Doping Agency (WADA). WADA yang dibentuk Komite Olimpiade Internasional (IOC) tahun 1999 itu berpusat di Montreal, Kanada.Dasar hukum lembaga itu adalah Keputusan Mendiknas Nomor 072/U/2004 tentang LADI dan Nomor 073/P/2004 tentang Pengurus LADI.

Namun, Toho mengakui, hingga kini Indonesia belum mempunyai laboratorium antidoping yang terakreditasi. “Masih dalam proses akreditasi, tapi laboratorium DKI Jakarta di Rawamangun sudah lama dapat melakukan pemeriksaan doping,” kata Toho, yang juga Dirjen Olahraga Depdiknas itu.

Untuk jangka pendek, LADI akan menyosialisasikan keberadaan lembaga tersebut dan bertindak sebagai institusi resmi di PON XVI Sumatera Selatan, September mendatang. Sementara untuk jangka panjang, LADI akan melakukan edukasi terhadap para dokter dan memonitor penggunaan doping. Apalagi di negara maju doping bukan hanya dipakai untuk olahraga prestasi, tetapi juga untuk olahraga nonprestasi yang membutuhkan keberanian ekstra.

“Memang belum ada indikasi seperti itu di Indonesia, tetapi kami harus melakukan tindakan preventif,” ujar Toho. Dia menambahkan, pengambilan sampel dari atlet bukan hanya selama kompetisi berlangsung, tetapi juga saat tidak ada pertandingan atau kompetisi. Hanya saja, LADI tidak memiliki wewenang untuk menjatuhkan sanksi kepada atlet yang terbukti positif doping, LADI hanya dapat memberikan analisis sampel, sedangkan sanksi diberikan oleh induk olahraga bersangkutan.

Koordinator Bidang Hukum LADI Cahyo Adi mengatakan, kepada atlet yang kedapatan doping, WADA menjatuhkan sanksi berupa dua tahun skorsing sehingga atlet tersebut tidak boleh berkompetisi sama sekali selama jangka waktu tersebut. Jika dia untuk kedua kalinya kedapatan doping lagi, WADA menjatuhkan sanksi serupa dengan yang pertama. Akan tetapi, jika terbukti positif doping sekali lagi, atlet tersebut dilarang bertanding seumur hidup.

“Itu lebih ringan daripada sanksi IOC sebelumnya, yaitu sanksi larangan bertanding plus denda ribuan dollar AS,” kata Cahyo Adi, yang juga anggota Komisi Hukum KONI Pusat itu. Susunan tim ahli LADI adalah Haryo Yuniarto, Juni Poerwanti, Linda Rosliana, Haryo Tilarso, James Tangkudung, Kamil Husni, dan Dangsina Muluk. (TIA).

DAFTAR PUSTAKA

 Rusli lutan, Sumardianto, (1999/2000) “penggunaan doping ditinjau dari aspek Etika”.

Kompas, 7 Agustus 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: